“Si Sha'un, si Sha'un…, beli bu, untuk bacaan anaknya”,tawaran seorang penjaja majalah anak-anak agak mengagetkanku.“Nggak, bang, terima kasih”,jawabku tersenyum sambil melirik putri kecilku yang duduk di sampingku, pun tersenyum geli.
“Ma.., abang penjaja majalah itu lucu ya.., nawarin majalah 'Shaun The Sheep', kok jadi Si Sha'un?”,kata Sarita, putri kecilku lirih sambil terkekeh tertahan.
Aku hanya tersenyum, meskipun menahan rasa geli yang sama dengan putriku, kurang sopan rasanya, sementara penjaja itu sedang susah payah berusaha menjajakan dagangan majalahnya.
Siang itu kereta api yang aku tumpangi dari Jakarta Kota ke Bekasi tak terlalu ramai, maklumlah ini sudah memasuki libur akhir pekan, dan besok tak terasa sudah Lebaran Haji lagi. Waktu memang berlalu tak terasa, apakah ini pertanda kiamat sudah dekat ? Masya Allah.. Wallahu’alam bishshawab.. Hanya Allah yang Maha Tahu.
“Oh iya.., aku jadi inget sama kambing kita, Ma. Udah datang belum yah.. ?”,tanya putri kecilku lagi penasaran.
“Hari ini, sayang. Kalau tidak sore, mungkin malam harinya baru datang”,jawabku tersenyum seraya membelai kepalanya yang ditutup hijab berwarna merah muda kesukaannya.
“Oh, gitu ya, ma. Namanya si Sha’un aja, ya Ma..? Lucu..”,katanya lagi meminta persetujuanku sambil tersenyum manis.
“OK.., boleh..mama juga suka, apalagi film kartunnya kan memang kesukaanmu, Nak”,kataku menyetujuinya.
*
Esoknya, Hari Raya Idul Adha pun menjelang, Usai Shalat Idul Adha ditunaikan, umat Muslim sedunia merayakan Hari Raya ini dengan penuh keikhlasan karen Allah SWT mengurbankan sedikit hartanya bagi yang mampu, dengan menyembelih hewan kurban, baik kambing, sapi atau kerbau untuk berbagi dengan sesamanya.., Alhamdulillah.
“Ma.., itu si Sha’un no.2..aduh kasian yaa..”,ujar putri bungsuku terdengar sendu dengan mimik sedihnya.
“Iya.., nak kita kurbankan si Sha’un dengan ikhlas karena Allah ta’ala. InsyAllah ..dia akan di surga tempat terbaik dari Allah. Yuk.., do’akan supaya si Shaun tidak merasakan sakitnya saat di sembelih nanti, Nak”,jawabku berusaha menahan rasa haru yang mencekat, tak tega.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar