Kamis, 24 November 2011

Kehidupan

Mendung bergelayut manja sambut fajar menyingsing, menambah kentalnya kegundahan hati Vina mengawali pagi. Embun pagi yang bak tidur di dedaunan serta dinginnya angin berhembus, menghanyutkan jiwa yang tengah gulana dalam secawan kejenuhan.
"Apa aktivitasku hari ini..?"
"Seperti hari-hari sebelumnya dan biasanya, mengurus keluarga, rumah, antar jemput anak-anak dan sebagainya. Hampir semuanya bukan untuk kepentingan diriku sendiri. Hhmmm... lelahnya..",ujar Vina menjawab tanyanya sendiri.
"Kriiiiiing....!"
"Astaghfirullah...",dering telepon menghapuskan lamunan kejenuhan Vina.
"Assalamu'alaikum .., Vin..",terdengar suara salah seorang sahabatnya menyapa.
"Wa'alaikum sallam..."
"Ada berita duka, Vin. Ayah Nadya..., tadi padi jam 10.00, meninggal dunia..", lanjut suara diseberang sana mengabarkan dengan nada prihatin.
"Innalillahi....",degup jantung Vina pun terasa lebih cepat berdetak.



Sekilas kejadian yang terjadi tentang Ayah Nadya yang memang telah lama mengidap penyakit ginjal tersampaikan, tapi berita kepergiannya tetap terasa mengejutkan.


"Baik bu, nanti setelah antar Cintya sekolah, saya langsung melayat ke sana. Syukran, infonya",ujar Vina mengakhiri pembicaraan telepon.

                                                                     ***


Kematian dan kelahiran bak siang dan malam patah tumbuh hilang berganti, begitulah kesempurnaan kehidupan. Tiada yang mampu menunda apa yang Allah SWT gariskan. Saat menuju ke rumah duka, Vina terbayang sosok ayah Nadya yang sangat sederhana. Seorang abi, begitu biasanya Vina menyapanya, adalah sosok yang alim, santun, humoris, penuh cinta dan dicintai keluarga serta lingkungan sekitarnya. Di tengah sakit parahnya, beliau tetap bertanggung jawab pada keluarga, baik pada sesama dan yang terutama tetap istiqomah dalam mendekatkan diri pada Sang Empunya alam semesta. Bagi kami, para sahabatnya kepergian beliau ini tetap mengejutkan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Apalagi seminggu sebelum beliau tiada, meski fisiknya terlihat lemah, namun terlukis kebahagiaan terpancar di wajahnya saat menikahkan putri sulungnya, kakak Nadya, tunaikan kewajiban sempurna seorang ayah.

Ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Kala 'perpisahan' menjelang, hanyalah cerita indah yang akan terkenang. Masih teringat segar dalam benak Vina, betapa terjaganya akhlak pasangan suami isteri sahabatnya ini. Dari kisah yang pernah dicurahkan sahabatnya dulu, Mama Nadya, abi adalah sosok suami yang diidamkannya, kesempurnaan cinta baginya. SubhanAllah.. Sebagai isteri yang sholehah, Mama Nadya penuh cinta, kesetiaan dan keikhlasan, ia mengabdi pada suami yang telah memberinya 4 buah cinta tak ternilai baginya. Meski melalui perjuangan yang tak ringan mereka hadapi, baik materi dan moril, tak menyurutkan gelora welas asih antara mereka berdua dan anak-anaknya. Keprihatinan, susah dan perihnya kehidupan di masa-masa yang sulit, tetap qana'ah mereka terima dan jalani dengan ikhlas serta istiqomah di jalanNYA dengan penuh kesabaran. Namun waktu yang Allah beri telah sampai pada batasnya. Setelah hampir 9 tahun melewati 'keperihan' lelah berkepanjangan dalam sakit ginjal yang mendera suaminya dan mengharuskannya menjalani perawatan cuci darah, Allah menentukan yang terbaik bagi abi, Ayah Nadya dan keluarganya. Sempurna lah sudah Allah memberi ke 2 anak manusia ini beserta 4 buah cinta mereka waktu dalam merajut jalinan kisah kasih yang seutuhnya, dalam balutan ketakwaan padaNYA selama di alam fana ini.

                                                              ***

Duka keluarga mereka, juga duka bagi kami, para teman dan sahabatnya. Mama Nadya memandang penuh cinta suaminya, abi dari anak-anaknya untuk terakhir kali, yang kini terbujur berbalut kain putih bersih meninggalkan alam fana, dirinya dan anak-anaknya, untuk kembali pada Sang Khaliq. Walau sudah terbayangkan sebelumnya, namun perpisahan membuat tiada satu manuasia pun yang mampu menahan bulir air mata rahmat Allah. Satu persatu bulir kasih yang jatuh, adalah bukti rasa kecintaan sekaligus kedukaan berpisah dengan seseorang yang sangat berarti dan dicintai dalam hidupnya, meski kita tetap berusaha ikhlas Lillahi ta'ala.

"Semoga  Mama Nadya dan anak-anaknya, diberiNYA kekuatan lahir bathin untuk menjalani kehidupan selanjutnya tanpa didampingi Abi-nya tercinta",do'a Vina dalam hatinya memohon padaNYA.


"Sabar..yaa, Mama Nad.. , Allah menentukan yang terbaik untuk Abi, Mama Nadya dan anak-anak",Vina memeluk erat sahabatnya seolah ingin memberinya kekuatan dan meringankan bebannya. Meski bulir air mata tak mampu di bendungnya.

"Terima kasih, mama Cintya..",dengan derai air mata, wajah Mama Nadya yang terlihat pucat, tetap berusaha untuk memberinya senyum keikhlasan pada sahabatnya ini.

"Yaa..Allah, kuatkanlah sahabatku dan anak-anaknya",do'a Vina lagi dalam hatinya penuh haru.

Vina terpekur sendu dalam rasa duka di tengah 'ujian kehidupan' sahabatnya. Ia mencoba mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Alangkah bijaksananya jika menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan, ketegaran dan kesederhanaan.  Seperti yang dilakukan oleh sahabatnya, Mama Nadya. Beliau seakan tiada beban menjalani kehidupan, tak pernah memusingkan hal-hal yang tak perlu. Kesederhanaan dalam hidup selalu diutamakannya, jauh dari sifat ujub duniawi, cinta pada kemewahan dunia. Tak pernah risau dengan perkembangan zaman, gaya hidup yang biasa kita alami atau kita lihat disekitar. Hidup yang bijak adalah memilih cara hidup yang membawa manfaat untuk dunia dan akhirat. Yaitu penuh syukur, kesahajaan, dan keikhlasan hati. Selintas Vina teringat kalimat yang dulu pernah diucapkan sahabat yang dikaguminya ini, hatinya pun tersentuh, "Masih lebih banyak nikmat yang Allah beri, dari pada kesulitan yang kami hadapi".

Seakan tersadar diri, rasa malu pun terkembang di hati Vina. Betapa selama ini rasa galau sering menguasai dirinya yang tak kuasa menahan keluh kesah. Seakan dirinya adalah makhluk yang paling lelah dan paling susah. Padahal di tempat yang lain, bahkan didekatnya pun ada banyak orang yang jauh lebih menderita dan prihatin dibandingkan dirinya.., 
"Astaghfirullahaladziim..., ampuni hambaMU ini, Yaa Rabb",desah Vina dalam hati penuh rasa miris dan sesal.


Tiada manusia lepas dari suka dan duka. Lumrah adanya keluhan dan jenuh yang terasa menjejal di jiwa. Namun usahlah menenggelamkan diri dari lautan ratap dan sesal. Ikhlas dan tegar seperti sahabatnya, tak 'hanyut' menyerah oleh lautan kehidupan. Ia menikmati dengan caranya yang sederhana, tetap bersyukur dan ikhlas jalani hidup apa pun yang terjadi adalah pilihan bijaknya. Karena Allah SWT selalu memberi yang terbaik, setiap usaha dan do'a hambaNYA sebagai ibadah/wujud syukur kepadaNYA. "Agar hidup terasa lebih bermakna, hidup harus dimaknai, dengan bersyukur dan ikhlas padaNYA dalam menjalani apa pun yang terjadi"

"SubhanAllah.., "desah Vina berdzikir lirih dan bulir bening air matanya kembali mengalir hangat di pipinya.


                                                        -----------------------


1 komentar:

  1. Kisah kehidupan nyata dari seorang sahabat, yang mampu lebih menyadarkan diri bhw kehidupan adalah nikmat dariNYA sekaligus juga ibadah yang harus dijalani/dilalui dengan tulus ikhlas karenaNYA.., SubhanAllah..,
    Semoga bermanfaat.. :)

    BalasHapus