Sabtu, 08 Oktober 2011

Lebih Indah Dari Mimpi


  “Masya Allah..”,terkejut Fatin kala dirinya terbangun dan melihat jam dinding di kamarnya  menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

 “Mimpi apa aku tadi ? serem sekali.. , hiiii… ”,merinding bulu romanya seketika.

      Mimpi memang hanyalah ‘bunga tidur’, tapi sungguh mimpinya kali ini membuatnya benar-benar takut. Fatin bukanlah pembenci makhluk ciptaanNYA, tapi ia memang memiliki rasa takut yang berlebih pada binatang melata, apalagi mimpi dikejar dan dibelit ular yang besar, sungguh sangat menakutkan baginya.

      Walau masih ‘berat’ membuka matanya, namun ia berusaha berdiri perlahan dan berjalan menuju ke kamar kecil. Ia ingin ‘membasuh’ ketakutan akibat mimpinya dengan berwudhu, lalu menunaikan qiyamul lail (shalat malam, tahajud) seperti yang biasa ia lakukan.

      Usai menunaikan shalat sunnahnya, ia curahkan isi hatinya padaNYA. Berdo'a dan memohon yang terbaik dariNYA agar  sesuai dengan yang diinginkannya selama ini. Tanpa terasa air mata pun mengalir hangat di pipinya. 

“Alhamdulillah…”,Ucapnya lirih mengakhiri do'anya, lalu disekanya lembut air mata yang mengalir lagi di pipinya.

Dirasakan hatinya  lebih tenang, dilihatnya jam weker masih menunjukkan pukul 03.15.





 “Lumayan.., masih ada waktu untuk tidur, sebelum waktu Subuh tiba. ”,ujarnya pada dirinya  sendiri,  sambil memasang wekernya kembali di pukul 04.15 WIB.  Lalu ditarik selimutnya perlahan, menutupi tubuh mungilnya sambil merebahkan dirinya kembali ke peraduannya.

                                                                                                 ***
    Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.45 WIB. Kantor masih sepi. Di ruangannya, baru Fatin saja yang hadir. Untung beberapa petugas office boy dan girl sudah ada, mereka sudah mulai membersihkan ruang kerja dan menyiapkan minuman untuk para karyawan, membuat Fatin tak sendiri. Baginya lebih baik mengalah datang lebih awal ke kantor dari pada harus ‘berjibaku’ dengan macet di jalanan yang terasa lebih melelahkan. Selain itu, Ia pun bisa lebih mempersiapkan diri dalam menyusun pekerjaan yang harus di kerjakannya.

    Tak terasa.., siang pun menjelang. Pekerjaan di kantor berjalan seperti biasa, sibuk. Dan baginya menyenangkan, karena bekerja adalah termasuk ibadah. Tiba-tiba telepon di meja kerjanya berdering. Meski satu tangannya masih memegang surat yang sedang dibacanya, Fatin pun bergeser sedikit untuk meraih telepon.

“Hallo, Selamat pagi.”

“Bisa bicara dengan, Ibu Fatin ?”,terdengar suara di seberang sana dengan nada formal.

“Ya, ini dengan saya sendiri. Maaf dengan siapa saya bicara, Pak ?”,balas Fatin sopan.

“Ini dari Kantor Kejaksaan, bu. Saya, Joko..”,terdengar suara lagi di sana, tapi kali ini dengan  suara tertahan.

“Oh iya.., ada apa, Pak Joko. Ada yang bisa saya bantu ?”,Fatin agak terkejut dan mengeryitkan  dahi di wajah polosnya. Karena aneh juga ada telepon dari Kejaksaan mencari dirinya.

“Waah.., aku gak tega, aku gak tahan..”

“Hahahaha…., maaf ya dik, ini aku..”, akhirnya terdengar suara tawa yang tertahan  dan  suara  itu  tak asing lagi bagi Fatin.

“Yaa, Allah.., ini Mas Farhan yaa…?”        

“Iiih.., iseng banget, bikin kaget saja. Mas.., lagi dimana..?”,Fatin geregetan dibuatnya, suara  tawa kekasihnya di seberang sana membuatnya gemas.

“Iya.., dik aku lagi di sini, tadi ada urusan di lantai 11, makan siang bareng, yuuk..”,ajaknya, sambil masih tersenyum geli, gurauannya tadi berhasil mengejutkan Fatin, gadis yang  dicintainya dan ingin segera ia meminang untuk menjadi isterinya.

“Oya.. beneeer, bukan guyonan lagi niih, mas…?”,ujar Fatin masih sedikit merengut kesal.

“Bener, serius. Aku sudah di lobby, dik..”,kali ini Farhan serius meyakinkan Fatin.

“Ok Mas.. mau, kebetulan aku belum ada rencana makan siang ke mana-mana kok”,Ujar Fatin akhirnya tersenyum dengan senang hati menerima ‘surprise’ makan siang ajakan kekasihnya, Farhan.


                                                                                          ***

“Dik, sudah dengar keputusan terbaru perusahaan ?”, Farhan membuka percakapannya,saat mereka menunggu pesanan makanan yang telah mereka pesan.

“Aku dengar, perusahaan akan membuat Surat Keputusan bahwa boleh menikah antar sesama karyawan yang masih single, seperti kita ini”,katanya santai sambil memandang Fatin.

“Iya.., aku juga sudah dengar sih, Mas.”

“Tapi Surat Keputusannya belum turun, Mas. Jadi belum tahu, kapan mulai berlaku..”,sahut Fatin tersenyum.

“Yaa.., semoga saja benar, kalau bisa “ASAP” As Soon As Posibble SK-nya turun, biar melegakan banyak  pasangan seperti kita.”

“Tapi.. apa pun yang perusahaan putuskan, aku siap.. Insya Allah aku akan melamar kamu, Dik”,Katanya kali ini  sambil tersenyum dan menatap Fatin penuh rasa sayang.

       Mendengar perkataan Farhan, rasanya hati Fatin berdegup lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba perutnya pun jadi terasa kenyang, padahal pesanan makan siangnya saja belum datang.

“Masya Allah.., apa maksud Mas Farhan, apakah dirinya sudah siap melamarku dalam waktu  dekat ?”

"Aaah..., jangan ge-er dulu ..",gumam Fatin dalam hati, sambil iseng membaca kembali menu makanan yang sudah dari tadi dibacanya sebagai penghilang kegugupannya.

“Dik.., kamu siap kan kalau hubungan kita berlanjut ke jenjang yang lebih serius, menikah?”,tanya Farhan mengejutkan Fatin yang saat itu pikirannya sedang melayang tak karuan meski pandangannya tertuju pada buku menu.

“Eh..Iya.., Insya Allah siap, Mas..”,jawab Fatin gugup sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Lucu sekali, jadi  terlihat seperti  Burung  Kutilang, seperti syair lagu anak-anak. Ia berusaha menutupi rasa terkejut dan gugupnya dalam menjawab pertanyaan  Farhan yang mendadak dan tak di sangkanya sama sekali.     

“Aduuuh, Ini bukan mimpi kan..?"
"Kenapa sih, aku ini...kok, gugup sekali. Tapi bagaimana pun..., Alhamdulillah…",gumam Fatin dalam hati merasa bersyukur dan bahagia. 
"Yaa, Allah apakah ini makna dari mimpiku semalam..?”

“Astaghfirullah…, Wallahu’alam bishshawab…”,ujar Fatin dalam hati, menepis pikirannya yang bukan-bukan.

       Yang pasti, siang itu menjadi siang yang berkesan bagi mereka berdua, meski pesanan makan siang  mereka belum juga kunjung datang, tapi itu tak mengapa. Siang itu,  kelak menjadi kenangan yang indah,  momentum penting bagi hubungan mereka selanjutnya. Ya, do’a Fatin dan Farhan selama ini akhirnya dijawabNYA. Setelah kedekatan hubungan mereka kurang lebih 2 tahun, akhirnya Farhan siap untuk melamar Fatin dan mengajaknya memasuki jenjang meniti kehidupan baru berdua dalam satu ikatan sakral.

       Siang itu, mentari yang tak malu-malu memancarkan sinarnya, seolah menjadi saksi bisu diantara mereka berdua. Untaian kata penuh makna membuatnya kian larut dalam merajut impian untuk mulai menata kehidupan di masa depan. Do'a dan usaha akan mampu mewujudkan semua mimpi dan harapan,  itulah rasa optimis di benak mereka, seterang dan secerah sinar mentari yang tersenyum melihat kebahagiaan dua anak manusia ini.




















~TAMAT~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar