Pagi ini seperti hari sebelumnya. Saat mentari masih enggan menampakkan sinarnya, Fatin telah terjaga dari buaian sunyinya malam, yang sebenarnya masih ingin sekali dinikmatinya. Setelah buah hati pertamanya lahir ke dunia, kenikmatan istirahat malamnya menjadi tak biasa dan terasa sangat melelahkannya tapi sekaligus juga membahagiakannya. Hampir setiap jam ia terjaga dari lelap tidurnya memberikan asupan ASI pada buah cintanya dengan Farhan, lelaki yang setahun lalu menikahinya. Namun baginya pengalaman baru yang membahagiakan ini memiliki 'sensasi rasa' yang berbeda. Ini adalah kenikmatan hidup sekaligus ujian keikhlasan hati yang harus dan pasti dialami oleh semua ibu baru seperti dirinya. "Sabar... Fat.., semua butuh adaptasi. Nanti .., kau juga akan terbiasa dengan keadaan barumu ini..",gumam Fatin menghibur dirinya menetralisir segala rasa yang ada.
Bagi Fatin, kelahiran buah hatinya adalah anugerah dan amanah Allah SWT yang harus disyukuri dan sangat membahagiakannya. Fatin merasa telah menjadi wanita seutuhnya. Bagai metamorfosa kehidupan yang sempurna. Setelah menjadi wanita lajang yang bekerja, menikah, mengandung dan kini buah hatinya telah berada dalam pelukannya. Semuanya bagai mimpi indah yang menjadi nyata, dan menambah semarak warna-warni kehidupannya. Fatin merasa pengorbanan yang diberikannya sepadan dengan kebahagiaan yang diperolehnya dan di damba semua wanita.
Meski tubuhnya kini tak lagi langsing seperti dulu, mengandung si buah hati selama 40 minggu (10 bulan), dengan 1001 rasa yang sulit diungkapkan. Proses pemulihan dirinya yang kadang masih merasakan sedikit nyeri di sekitar bekas operasi saesar beberapa hari yang lalu saat melahirkan si kecil yang terlilit tali pusar 2 kali di lehernya, sampai dengan pengalaman merasakan nyeri saat memberi ASI pada si kecil untuk pertama kalinya. Bagi Fatin semua pengorbanannya terbayar sudah, setelah melihat buah hatinya lahir tak kurang suatu apa, sehat dan lucu. Semua ketidaknyamanan yang dirasakannya seakan luruh dan berganti dengan kebahagiaan .., Alhamdulillah.
Salah satu wujud rasa syukurnya, Fatin pun berusaha menikmati dengan menghayati peran lengkapnya sebagai seorang ibu baru sekaligus isteri dengan melakukan sendiri semua tugasnya. Dari memberi ASI, merawat, memandikan dan mengurus segala keperluan buah hatinya juga sekaligus melayani kebutuhan suaminya tercinta. Beruntung, ibu tercintanya selalu setia mendampingi, membantu dan mengajarinya dalam menjalani peran barunya sebagai ibu bagi si kecil, anggota baru di kediaman keluarga besar mereka. Sehingga Fatin pun merasa memiliki kekuatan dan kepercayaan diri untuk menjalani peran barunya ini.
"Cukup.., Yang..",ujar Farhan lembut sambil menyentuh jemari Fatin yang sedang menuangkan nasi di piring Farhan saat menyiapkan sarapannya sebelum berangkat bekerja.
"Jangan terlalu cape' ya, Yang... Sarapan bersama saja sekarang. Biar ASI nya lancar, dan bekas operasinya cepat pulih, Yang.."ujar Farhan lagi menyarankan, sambil tersenyum pada Fatin, isterinya.
Fatin bersyukur, suaminya Farhan memang sosok yang penuh perhatian padanya dan buah hati mereka. Ia pun ringan membantu Fatin dalam merawat si kecil jika sedang libur bekerja. Bagi Farhan, pengalaman ini adalah tanggung jawab yang harus mereka pikul berdua dalam merawat dan mengurus si kecil, yang merupakan pengalaman baru yang sangat membahagiakannya.
"Iya, mas..",jawab Fatin sambil tersenyum, lalu beranjak duduk di hadapan Farhan menemaninya menyantap sarapan pagi.
***
Tak terasa telah hampir 3 bulan waktu berlalu. Kenikmatan merawat buah hati di rumah telah bisa ia rasakan, namun tugas untuk kembali bekerja telah memanggilnya, setelah cuti grafida dari kantornya berakhir hari ini. Dengan tatapan penuh kasih, Fatin membelai lembut si kecil yang tertidur pulas di pelukannya.
"Inilah kehidupan yang akan ku jalani..",gumam Fatin dalam hati, sendu.
Terlintas kembali ke masa silam, teringat akan pengalaman dirinya dan kakak satu-satunya pun mengalami hal yang sama seperti yang kini tengah akan dijalani bersama keluarga kecilnya. Bapak dan ibu Fatin adalah seorang pilot dan karyawati sebuah bank. Bisa dibayangkan betapa sibuk dan segala kerepotan yang dialaminya saat itu. Problema dan masalah yang harus dilalui sepanjang hidup sampai dirinya dewasa, masih segar tergambar dalam ingatannya.
"Akan kah keluargaku pun seperti yang ku alami dulu ? Anak-anakku yang merasa kesepian seperti juga halnya diriku, yang merindukan ibu di setiap keseharianku sepulangku sekolah ? Inginnya ibu ada didekatku saat ku lewati masa-masa sulitku ? Sampai dengan kenakalan anak-anak, yang kalau aku ingat, apa yang aku dan kakakku lakukan, cukup membuat aku tak berani membayangkannya ?",begitu banyak pertanyaan muncul dalam benak Fatin saat ini.
Meski pun begitu, Alhamdulillah.., semua telah terlewati dengan baik-baik saja. Memang apa yang ia dan kakaknya lakukan di masa lalu, hanyalah kenakalan anak-anak biasa. Tapi ada satu pengalamannya yang tak terlupa yaitu saat dirinya terjatuh dari motor dengan posisi knalpot yang menindih betisnya dan meninggalkan tanda 'pulau' mungil bertengger disana, dan masih membekas sampai kini. Bermain sepeda sampai jauh dari wilayah kompleks perumahannya, main layang-layang diatas genteng dan masih banyak lagi ....
"Cukup.., Fat..jangan kau teruskan bayangan kenakalanmu dan kakakmu dulu."
"Itu hanya akan membuat dirimu menjadi parno..*paranoid* sendiri...",gumam Fatin dalam hati mengakhiri bayangan kenakalan anak-anak yang dilakukannya di masa lalu.
"Inilah dilematis seorang wanita pekerja. Pasti dulu ibu juga merasakan hal yang sama sepertiku sekarang. But life goes on, tapi hidup terus berjalan. Jalani dan Bismillah .., Semoga Allah memberi yang terbaik",do'a Fatin dalam hati mengakhiri bayangan masa lalu yang seakan membuat hatinya semakin galau.
Dihelanya nafas panjang, dan ditatapnya kembali wajah lucu menggemaskan si kecil yang masih tertidur pulas dalam pelukannya. Seketika itu pula, semakin luluh rasa hatinya, menyatu dalam rasa bersalah harus meninggalkan si kecil sekalipun untuk pergi bekerja.
"Uuuh..lagi-lagi aku bagai mengeluh dengan kenyataan yang ada.., Astaghfirullah.."
Fatin pun beranjak perlahan dan hati-hati dari duduknya. Merebahkan si kecil di tempat tidur mungilnya, membetulkan posisinya dan mengecup lembut pipinya yang gembil menggemaskan. Lalu ia pun beranjak ke peraduan yang berada di sebelahnya dan merebahkan dirinya perlahan di sana. Tanpa terasa .., tak lama kemudian ia pun telah terlelap dalam bius lelah kantuknya yang sedari tadi ditahannya.
***
#Episode dilematis wanita pekerja#
Thx for your come and read my notes..,
BalasHapustrims bagi yang sudah mampir dan membaca catatanku :)