"Alhamdulillah.., akhirnya dapet juga ya, mas",ujar Fatin pada Farhan, suaminya yang duduk disampingnya sambil tersenyum lega.
Farhan pun membalas senyuman manis wanita yang dicintainya dengan anggukkan kepala serta senyuman dan tatapan penuh kasih. Dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur, karena Allah telah memberinya seorang isteri yang dicintai dan mencintainya dengan tulus. Mau dan bisa mengerti kesederhanaan hidup, sehingga mau bersusah payah berangkat kerja bersama, meski hanya dengan menggunakan kendaraan umum saja. Padahal sebelum dinikahi Farhan dua bulan yang lalu, Fatin terbiasa bepergian dengan kendaraan pribadi dan kemudahan cara hidup lainnya yang lebih menyenangkan.. SubhanAllah..."Alhamdulillah.., inilah anugerah cinta sejatiku. InsyAllah.., bisa kami jaga rasa cinta ini, kini dan selamanya",do'a Farhan dalam hati penuh syukur.
"Mas.., nanti jadi ke kantor pusat kan ?",suara lembut Fatin sedikit mengejutkan Farhan yang tengah tenggelam dalam lamunannya.
"Oh.., iya ya.., jadi dik. Mungkin jam makan siang aku sudah di sana."
"InsyAllah .., kita makan siang bersama, yaa ?",ajak Farhan seraya menatapnya dan menggenggam lembut telapak tangan Fatin.
"Oya..? ok insyAllah..",bola mata indah Fatin pun berbinar senang menerima ajakan Farhan, suaminya tercinta.
***
"Kok makannya sedikit, dik. Kenapa ?",tanya Farhan sambil memandang isterinya yang duduk di hadapannya.
"Hmm.., nggak apa-apa kok, mas. Cuma sedikit mual aja, padahal tadi rasanya laper..",wajah Fatin memang sedikit terlihat pucat.
"Tadi sibuk ya ? Usahakan ngemil, dik, kalau perut terasa laper, jangan dibiarkan kosong..",ujar Farhan lagi, sedikit khawatir.
Fatin menganggukkan kepalanya sambil berusaha untuk tersenyum, dan memasukkan sedikit demi sedikit makan siang yang ada di hadapannya ke dalam mulutnya lagi.
"Mudah-mudahan penyakit maagku tidak kumat. Hari ini di kantor memang lumayan sibuk dari tadi pagi, jadi sama sekali tidak sempat ngemil apa pun, hanya segelas teh manis saja yang sempat masuk ke perutku",gumam Fatin dalam hati, ia tak mau menambah kekhawatiran Farhan terhadap dirinya.
Selama ini Fatin mengenal Farhan sebagai sosok lelaki yang baik, sabar, penuh kasih sayang dan perhatian yang besar padanya. Kesederhanaannya dalam menjalani hidup, sedikit banyak mengajarkan dan mampu lebih membuka mata Fatin, bahwa hidup ini bukanlah hanya kesenangan dan hura-hura belaka, tapi lebih dari itu, hidup adalah ibadah. Apa yang kita perbuat dalam menjalani kehidupan ada penilaian tersendiri di mata Allah SWT. Apa pun yang di hadapi, harus dengan ikhlas dijalani sebagai wujud syukur dan pengabdian kepada Allah SWT, walau memang tidak lah mudah. Itulah salah satu yang membuat dirinya jatuh hati dan bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan, 'apa adanya' pada diri Farhan yang kini telah menjadi suaminya.
"Semoga dia pun begitu, padaku..",do'a Fatin dalam hati, di tengah lamunannya.
"Ayo.., dik. Habiskan, jangan melamun..",Farhan tersenyum sembari telapak tangannya mengusap lembut jemari Fatin.
Ternyata sedari tadi Farhan tengah memandanginya dengan tatapan matanya yang teduh, penuh rasa kasih padanya.
"Yaa, Allah.. terimakasih.. mata itu menenangkan ku..",Fatin pun tertunduk tersipu dan rasa mual yang mengganggunya tadi, sedikit terobati.
***
Mentari pagi masih enggan menampakkan sinarnya. Udara pagi di Minggu hari itu pun terasa segar. Kicau burung yang mulai terdengar, dan basahnya embun pagi yang bergelayut manja di dedaunan menambah indahnya suasana pagi.
Alhamdulillah.., mengawali hari adalah kenikmatan yang sangat berharga bagi setiap manusia, begitu pun pasangan muda Farhan dan Fatin. Mereka berdua sangat mensyukuri setiap detik kebersamaan yang mereka lalui. Menunaikan kewajiban shalat Subuh berjama'ah mereka jalani bersama. Hampir dua bulan mereka menikah, makin menyadari pula betapa Allah SWT sangat memuliakan setiap hambaNYA. Ya.., Allah SWT telah memasangkan setiap hambaNYA dengan pasangan-pasangannya yang sempurna, agar lahir dan bathin mereka pun lebih tenang dan bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia.., SubhanAllah.
Usai mengakhiri lantunan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Farhan menutup kitab mulia itu perlahan.
"Mas.., ada dua garis..",suara lembut Fatin terdengar riang namun tertahan memecah keheningan pagi itu.
"Oya..? Coba ku lihat, dik.."Farhan beranjak dari duduknya menghampiri Fatin yang masih memegang test-pack merah muda di tangannya.
"Alhamdulillah...",ujar Farhan mengucap syukur pada Allah SWT setelah melihat dua garis sejajar warna merah muda di kertas test penguji kehamilan yang dilakukan Fatin sebelum shalat Subuh.
"InsyAllah.., hasilnya positif. Besok kita ke Rumah Sakit, tes laboraturium supaya lebih yakin yaa, dik ?",sambil menatap isterinya penuh rasa cinta, penuh rasa syukur dan bahagia.
Ternyata rasa mual dan wajah pucat Fatin yang selama ini dikhawatirkan, hanyalah salah satu tanda ia mulai berbadan dua. Betapa haru dan bahagianya pasangan muda ini. Farhan pun meraih lembut tubuh mungil isterinya ke dalam hangat pelukannya dengan penuh kasih dan sayang.
"Alhamdulillah.., sekali lagi ini adalah anugerahMU yang terindah, Yaa Rabb...terima kasih",ungkap hati Farhan di tengah rasa lega dan bahagia penuh rasa syukur padaNYA.
----------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar