“Bismillah..,
ini demi kebaikannya. Semoga keputusan ini tidak salah..”,gumam Fathin berdo’a dalam
hati, saat menandatangani surat administrasi pengurusan rawat inap ibundanya.
di rumah sakit.
Meski
bundanya berkeras hati tidak mau diperiksakan ke dokter, apalagi di rawat di
rumah sakit. Jika di rawat di rumah sakit, beliau harus mengikuti pola makan
yang dibatasi ditambah dengan terapi obat-obatan tentulah sudah terbayang beratnya. Begitu pun
Fathin yang memiliki rasa enggan, tak nyaman
dengan suasana rumah sakit, setelah beberapa kejadian yang pernah dialaminya
dan menyisakan trauma. Namun akhirnya, Fathin terpaksa memutuskan untuk memeriksakan
bunda tercintanya ke rumah sakit demi pemulihan kesehatannya. Mengingat usia
beliau yang telah lanjut dan kondisi kesehatannya yang semakin menurun akibat
kadar gulanya melonjak tinggi. Inilah masa yang cukup kritis dan keputusan
berat yang harus diambil Fathin dan keluarga besarnya.
“Efek dari penyakit diabetes melitus ini bisa
bermacam-macam. Salah satunya seperti yang ibu alami, yaitu kondisi jantung ibu
ikut terganggu. Dan melihat dari hasil laboraturium ibu yang kadar albuminnya
rendah, ibu juga harus ditransfusi albumin. Agar pengobatan dan usaha
penyembuhan jadi optimal ..”,ujar dokter spesialias penyakit dalam dengan nada
yang cukup serius, tapi informatif dan komunikatif.
“Ooh..,begitu,
Dok. Baiklah.. usahakan yang terbaik saja, untuk pemulihan kesehatan ibu kami,
Dok”,jawab Fathin terkejut dengan pernyataan dokter saat didampingi kakak tertuanya
Perasaan risau memenuhi ruang hatinya, namun Fathin berusaha terus menenangkan diri
dengan dzikirullah, mengingat Allah SWT.
“Baiklah..,
tapi maaf, terpaksa ibu harus dirawat disini sampai kondisi beliau stabil di
ruang intensif, agar bisa di monitor setiap saat oleh dokter dan perawat di
sini..”,lanjut dokter tadi menambahkan.
“Baiklah..,
upayakan yang terbaik untuk ibu saya, Dok..”,jawab Fathin lagi.
***
Malam
semakin larut. Ini malam pertama tanpa ibundanya. Ada rasa yang tak biasa
dihati Fathin. Ibunda tercintanya tak ada di dekatnya, serumah dengannya.
“Meski
ini pahit tapi ini ikhtiar terbaik yang harus dijalani. InsyaAllah dengan do’a
akan ada perkembangan kondisi kesehatan
ibu yang lebih baik…”,ujar Farhan seolah mengerti apa yang tengah dirasakan
istrinya tercinta, Fathin yang belum bisa memejamkan matanya.
Fathin
tercenung, menyadari kebenaran ucapan Farhan, suaminya. Fatin merasa bagai berada
di sebuah titian jalan menuju Bulan Ramadhan. Apalagi perkembangan kemajuan kesehatan
bundanya terasa begitu lambat, bak menguji keikhlasan dan kesabaran hatinya.
“Tapi
bukan lah seorang muslim yang beriman
jika mudah berputus asa dalam kepedihan atau kesusahan. Bukan kah senjata orang
muslim yang beriman dalam menghadapi setiap masalah adalah ikhtiar dan do’a..? Semua
ada dalam kumpulan firman Allah.., Astaghfirullah…”,ujar Fathin lirih seakan
melepas beban berat yang mengganjal di hatinya.
Fathin
pun beranjak perlahan dari peraduannya. Berwudhu untuk menenangkan diri dan
dilanjutnya dengan menegakkan shalat malam demi meraih ridhoNya dan memohon
pertolongan dariNya. Dipanjatkan semua harapan dan do’a terbaiknya untuk
pemulihan kesehatan sang bunda tercinta kepada Sang Khaliq. Seakan terbayang di
pelupuk matanya segala kebahagiaan, kebaikan, jasa sang bunda yang telah
melahirkan dan membesarkannya dengan segala daya upayanya dan ketidak
sempurnaannya sebagai manusia biasa.
“Bismillah...
AS’ALULLOOHAL-ADZIIM ROBBAL ‘ARSYIL AZIIM AN YASYFIYAKA, saya mohon kepada
Allah, yang maha agung yang menguasai ‘arsy yang agung, semoga Dia menyembuhkan
bundaku.. Aamiin...”,seuntai do’a meluncur dari bibir Fathin menutup shalat
malamnya.
Tanpa
disadari, bulir-bulir air yang memenuhi ruang matanya pun jatuh satu persatu, tak mampu
dibendungnya.
***
Pagi
menjelang, seusai mendirikan kewajibannya sebagai hambaNya di tunaikan, Fathin
seakan tenggelam dalam kesibukkan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Bersyukur, meski anak-anaknya sedang menjalani liburan kenaikan kelas, namun mereka tak menuntut harus berlibur, bepergian
ke suatu tempat hiburan tertentu demi mengisi waktu liburan panjangnya.
“Alhamdulillah..,
mama bersyukur kalian bisa mengerti keadaan. Insya Allah.. akan ada waktunya
nanti kita bisa berlibur dan jangan lupa selalu do’akan Mbah Uti, semoga lekas
pulih, sehat dan bisa berkumpul kembali bersama kita yaa, anak-anak..”,ujar
Fathin bersyukur dan menghargai sikap bijak anak-anaknya, Ayas dan Alya.
“Aamiin.
Iya..., Ma nggak apa-apa. InsyaAllah .., Ma..”,ujar Ayas dan Alya hampir kompak
meski tanpa komando.
“Pokoknya
mama juga jaga kesehatan yaa.., jangan sampai sakit.., kan sebentar lagi bulan
puasa..biar kita semua bisa puasa bersama..”,tambah bungsunya, Alya mendekati
sang mama dengan gayanya yang manja, menggemaskan.
“InsyaAllah..
iya, sayang. Makasih yaa, sudah diingatkan. Bantu mama dengan do’a juga yaa,
anak-anakku sayang..”,jawab Fathin tersenyum penuh haru sambil menyambut
pelukan bungsunya, Alya.
Dirasakan
bebannya terasa lebih ringan. Fathin tak menyangka, ternyata anak-anaknya bisa
bersikap dewasa dan membantu meringankan beban yang dirasanya. Nikmat Allah
memang selalu ada disegala suasana, suka maupun duka. Dia tahu yang terbaik
bagi hambaNya, SubhanAllah…
***
Hilir mudik antara rumah dan rumah sakit, mengurus dan memonitor kondisi perkembangan
kesehatan bundanya di rumah sakit dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga,
Fathin berusaha ikhlas tak mengeluh dalam menjalani semua yang terjadi. Ia
teringat nasihat dari para alim yang mengatakan bahwa ,”Sejatinya nikmat hidup
itu bukanlah yang bergelimang duniawi. Tapi hidup yang diberi kemampuan
mengenal siapa penciptanya, menapaki jalan yang diridhoiNya, ikhlas dalam
ikhtiar serta do’a dalam menjalani kehidupan karenaNya dan berguna bagi orang lain".
“Ayo
…sayang, makan yaa..biar cepat sembuh. Pulang kembali ke rumah..kumpul sama
anak dan cucu. Sebentar lagi ..Ramadhan tiba, buu..”,rayu Fathin saat berusaha menyuapi
makan bunda tercintanya di rumah sakit.
Meski
bundanya seakan mengabaikan perkataan Fathin, bahkan berbuat tak sesuai harapan,
bersikap seperti anak kecil dengan memuntahkan makanan atau obatnya, Namun Fathin
berusaha untuk bersabar dan memakluminya. Bagi Fathin ini salah satu ujian dan
baktinya pada sang bunda. Apalagi di tengah sakitnya di usia senja bundanya, hati Fathin
pun semakin penuh asih. Disebutkan dalam kalam Allah QS (An-Naĥl) 16 :70 -
"Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada
yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa".
***
“Bu..,
Mbah sudah bisa pindah di ruang pemulihan hari ini.., nanti dokter akan
berkunjung pagi ini untuk lebih jelasnya…”,ujar perawat sambil tersenyum memberitahu
pada Fathin saat mengunjungi bundanya.
“Alhamdulillah..
Terima kasih.., baik nanti saya menunggu kunjungan dokter, Suster..”,balas
Fathin dan tersenyum lega.
Dilihatnya
sang bunda yang masih tertidur di pembaringan kamar intensif ini. Kondisi
beliau memang terlihat lebih segar dan tidak lemas seperti empat hari
sebelumnya. Kakinya pun sudah tidak bengkak lagi. Dan makan pun sudah terlihat
lebih semangat dari sebelumnya.
“Bu..,
ini Dokter Hendry ..”,ujar perawat memberitahu Fathin.
“Oya..,
pagi, dok. Bagaimana kondisi ibu saya, dok., sudah bisa pindah kamar pemulihan
hari ini ?”,tanya Fathin pada dokter yang menangani ibundanya.
“Berdasarkan
catatan medik yang ada, dan melihat kondisi ibu saat ini untuk jantung dan
kadar albumin sudah normal serta stabil. Walau kadar gula darahnya masih belum
stabil. Tapi sudah ada penurunan. Syukurlah ..ini perkembangan kesehatan yang lumayan
baik. Semoga semakin baik di ruang pemulihan nanti.”,ujar dokter menjelaskan
kondisi ibundanya yang cukup menggembirakan Fathin.
“Alhamdulillah…,
terima kasih, Dok. InsyaAllah ..semoga dari hari ke hari nanti, semakin baik
kondisinya, Dok..”,ujar Fathin penuh harap sambil tersenyum lega.
***
“Yuuk.., Bu, semangat sehat. Supaya kita bisa
berkumpul bersama lagi. Ramadhan akan tiba. Sahur, puasa dan berbuka puasa
bersama anak, mantu dan cucu-cucu.
Waah.., senangnya, yaa. Bu..”,ujar Fathin mengingatkan bundanya demi pemulihan
kesehatannya kembali.
Bundanya
pun mengangguk pasti, sambil tersenyum menatap Fathin penuh kasih.
Terbayang
di benak Fathin, betapa indah dan membahagiakan bila ibundanya kembali sehat
dan bisa berkumpul bersama keluarga tercinta di bulan suci Ramadhan ini.
“InsyaAllah..yaa,
buu…”,ujar Fathin lagi pada bundanya tercinta sambil balas tersenyum.
Hari
demi hari yang dilalui, berjalan semakin cepat dan perkembangan kondisi kesehatan ibundanya menuju ke arah yang lebih baik. Kini.., titian menuju bulan suci Ramadhan, semakin luas terbentangkan dan melegakan. Bagi Fathin bulan Ramadhan kali ini terasa berbeda dari sebelumnya, apa yang telah dilaluinya merupakan latihan "training from Allah" ujian kesabaran diri dan keluarga
besarnya sebelum menjalankan ibadah di bulan suci.
"Alhamdulillah…, Bulan
Ramadhan telah di pelupuk mata. Umat muslim sedunia merindukannya, hamba memohon
padaMU, Ya Rabb.., untuk bisa sampai dan sambut
bulan suci yang penuh berkah dan ampunan dengan hati yang bersih, ikhlas dan
sabar sebagai modal untuk menjalankan ibadah. Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat
datang bulan Ramadhan. Allahu Akbar…".
***Selesai***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar