Rabu, 24 Juli 2013

Menuju Titian Ramadhan


“Bismillah.., ini demi kebaikannya. Semoga keputusan ini tidak salah..”,gumam Fathin berdo’a dalam hati, saat menandatangani surat administrasi pengurusan rawat inap ibundanya. di rumah sakit. 

Meski bundanya berkeras hati tidak mau diperiksakan ke dokter, apalagi di rawat di rumah sakit. Jika di rawat di rumah sakit, beliau harus mengikuti pola makan yang dibatasi ditambah dengan terapi obat-obatan  tentulah sudah terbayang beratnya. Begitu pun Fathin yang memiliki rasa enggan,  tak nyaman dengan suasana rumah sakit, setelah beberapa kejadian yang pernah dialaminya dan menyisakan trauma. Namun akhirnya, Fathin terpaksa memutuskan untuk memeriksakan bunda tercintanya ke rumah sakit demi pemulihan kesehatannya. Mengingat usia beliau yang telah lanjut dan kondisi kesehatannya yang semakin menurun akibat kadar gulanya melonjak tinggi. Inilah masa yang cukup kritis dan keputusan berat yang harus diambil Fathin dan keluarga besarnya.

“Efek dari penyakit diabetes melitus ini bisa bermacam-macam. Salah satunya seperti yang ibu alami, yaitu kondisi jantung ibu ikut terganggu. Dan melihat dari hasil laboraturium ibu yang kadar albuminnya rendah, ibu juga harus ditransfusi albumin. Agar pengobatan dan usaha penyembuhan jadi optimal ..”,ujar dokter spesialias penyakit dalam dengan nada yang cukup serius, tapi informatif dan komunikatif.

“Ooh..,begitu, Dok. Baiklah.. usahakan yang terbaik saja, untuk pemulihan kesehatan ibu kami, Dok”,jawab Fathin terkejut dengan pernyataan dokter saat didampingi kakak tertuanya

Perasaan risau memenuhi ruang hatinya, namun Fathin berusaha terus menenangkan diri dengan dzikirullah, mengingat Allah SWT.

“Baiklah.., tapi maaf, terpaksa ibu harus dirawat disini sampai kondisi beliau stabil di ruang intensif, agar bisa di monitor setiap saat oleh dokter dan perawat di sini..”,lanjut dokter tadi menambahkan.

“Baiklah.., upayakan yang terbaik untuk ibu saya, Dok..”,jawab Fathin lagi.

***
Malam semakin larut. Ini malam pertama tanpa ibundanya. Ada rasa yang tak biasa dihati Fathin. Ibunda tercintanya tak ada di dekatnya, serumah dengannya.

“Meski ini pahit tapi ini ikhtiar terbaik yang harus dijalani. InsyaAllah dengan do’a akan ada  perkembangan kondisi kesehatan ibu yang lebih baik…”,ujar Farhan seolah mengerti apa yang tengah dirasakan istrinya tercinta, Fathin yang belum bisa memejamkan matanya. 

Fathin tercenung, menyadari kebenaran ucapan Farhan, suaminya. Fatin merasa bagai berada di sebuah titian jalan menuju Bulan Ramadhan. Apalagi perkembangan kemajuan kesehatan bundanya terasa begitu lambat, bak menguji keikhlasan dan kesabaran hatinya.

“Tapi bukan lah  seorang muslim yang beriman jika mudah berputus asa dalam kepedihan atau kesusahan. Bukan kah senjata orang muslim yang beriman dalam menghadapi setiap masalah adalah ikhtiar dan do’a..? Semua ada dalam kumpulan firman Allah.., Astaghfirullah…”,ujar Fathin lirih seakan melepas beban berat yang mengganjal di hatinya.

Fathin pun beranjak perlahan dari peraduannya. Berwudhu untuk menenangkan diri dan dilanjutnya dengan menegakkan shalat malam demi meraih ridhoNya dan memohon pertolongan dariNya. Dipanjatkan semua harapan dan do’a terbaiknya untuk pemulihan kesehatan sang bunda tercinta kepada Sang Khaliq. Seakan terbayang di pelupuk matanya segala kebahagiaan, kebaikan, jasa sang bunda yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala daya upayanya dan ketidak sempurnaannya sebagai manusia biasa.

“Bismillah... AS’ALULLOOHAL-ADZIIM ROBBAL ‘ARSYIL AZIIM AN YASYFIYAKA, saya mohon kepada Allah, yang maha agung yang menguasai ‘arsy yang agung, semoga Dia menyembuhkan bundaku.. Aamiin...”,seuntai do’a meluncur dari bibir Fathin menutup shalat malamnya.

Tanpa disadari, bulir-bulir air yang memenuhi ruang matanya pun jatuh satu persatu, tak mampu dibendungnya.
***
Pagi menjelang, seusai mendirikan kewajibannya sebagai hambaNya di tunaikan, Fathin seakan tenggelam dalam kesibukkan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Bersyukur, meski anak-anaknya sedang menjalani liburan kenaikan kelas, namun  mereka tak menuntut harus berlibur, bepergian ke suatu tempat hiburan tertentu demi mengisi waktu liburan panjangnya.

“Alhamdulillah.., mama bersyukur kalian bisa mengerti keadaan. Insya Allah.. akan ada waktunya nanti kita bisa berlibur dan jangan lupa selalu do’akan Mbah Uti, semoga lekas pulih, sehat dan bisa berkumpul kembali bersama kita yaa, anak-anak..”,ujar Fathin bersyukur dan menghargai sikap bijak anak-anaknya, Ayas dan Alya.

“Aamiin. Iya..., Ma nggak apa-apa. InsyaAllah .., Ma..”,ujar Ayas dan Alya hampir kompak meski tanpa komando.

“Pokoknya mama juga jaga kesehatan yaa.., jangan sampai sakit.., kan sebentar lagi bulan puasa..biar kita semua bisa puasa bersama..”,tambah bungsunya, Alya mendekati sang mama dengan gayanya yang manja, menggemaskan.

“InsyaAllah.. iya, sayang. Makasih yaa, sudah diingatkan. Bantu mama dengan do’a juga yaa, anak-anakku sayang..”,jawab Fathin tersenyum penuh haru sambil menyambut pelukan bungsunya, Alya.

Dirasakan bebannya terasa lebih ringan. Fathin tak menyangka, ternyata anak-anaknya bisa bersikap dewasa dan membantu meringankan beban yang dirasanya. Nikmat Allah memang selalu ada disegala suasana, suka maupun duka. Dia tahu yang terbaik bagi hambaNya, SubhanAllah…

***
Hilir mudik antara rumah dan rumah sakit, mengurus dan memonitor kondisi perkembangan kesehatan bundanya di rumah sakit dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, Fathin berusaha ikhlas tak mengeluh dalam menjalani semua yang terjadi. Ia teringat nasihat dari para alim yang mengatakan bahwa ,”Sejatinya nikmat hidup itu bukanlah yang bergelimang duniawi. Tapi hidup yang diberi kemampuan mengenal siapa penciptanya, menapaki jalan yang diridhoiNya, ikhlas dalam ikhtiar serta do’a dalam menjalani kehidupan karenaNya dan berguna bagi orang lain".

“Ayo …sayang, makan yaa..biar cepat sembuh. Pulang kembali ke rumah..kumpul sama anak dan cucu. Sebentar lagi ..Ramadhan tiba, buu..”,rayu Fathin saat berusaha menyuapi makan bunda tercintanya di rumah sakit.

Meski bundanya seakan mengabaikan perkataan Fathin, bahkan berbuat tak sesuai harapan, bersikap seperti anak kecil dengan memuntahkan makanan atau obatnya, Namun Fathin berusaha untuk bersabar dan memakluminya. Bagi Fathin ini salah satu ujian dan baktinya pada sang bunda. Apalagi di tengah  sakitnya di usia senja bundanya, hati Fathin pun semakin penuh asih. Disebutkan dalam kalam Allah QS (An-Naĥl) 16 :70 - "Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa".  

***
“Bu.., Mbah sudah bisa pindah di ruang pemulihan hari ini.., nanti dokter akan berkunjung pagi ini untuk lebih jelasnya…”,ujar perawat sambil tersenyum memberitahu pada Fathin saat mengunjungi  bundanya.  

“Alhamdulillah.. Terima kasih.., baik nanti saya menunggu kunjungan dokter, Suster..”,balas Fathin dan tersenyum lega.

Dilihatnya sang bunda yang masih tertidur di pembaringan kamar intensif ini. Kondisi beliau memang terlihat lebih segar dan tidak lemas seperti empat hari sebelumnya. Kakinya pun sudah tidak bengkak lagi. Dan makan pun sudah terlihat lebih semangat dari sebelumnya.

“Bu.., ini Dokter Hendry ..”,ujar perawat memberitahu Fathin.

“Oya.., pagi, dok. Bagaimana kondisi ibu saya, dok., sudah bisa pindah kamar pemulihan hari ini ?”,tanya Fathin pada dokter yang menangani ibundanya.

“Berdasarkan catatan medik yang ada, dan melihat kondisi ibu saat ini untuk jantung dan kadar albumin sudah normal serta stabil. Walau kadar gula darahnya masih belum stabil. Tapi sudah ada penurunan. Syukurlah ..ini perkembangan kesehatan yang lumayan baik. Semoga semakin baik di ruang pemulihan nanti.”,ujar dokter menjelaskan kondisi ibundanya yang cukup menggembirakan Fathin.

“Alhamdulillah…, terima kasih, Dok. InsyaAllah ..semoga dari hari ke hari nanti, semakin baik kondisinya, Dok..”,ujar Fathin penuh harap sambil tersenyum lega.

***
 “Yuuk.., Bu, semangat sehat. Supaya kita bisa berkumpul bersama lagi. Ramadhan akan tiba. Sahur, puasa dan berbuka puasa bersama anak,  mantu dan cucu-cucu. Waah.., senangnya, yaa. Bu..”,ujar Fathin mengingatkan bundanya demi pemulihan kesehatannya kembali.

Bundanya pun mengangguk pasti, sambil tersenyum menatap Fathin penuh kasih.

Terbayang di benak Fathin, betapa indah dan membahagiakan bila ibundanya kembali sehat dan bisa berkumpul bersama keluarga tercinta di bulan suci Ramadhan ini.

“InsyaAllah..yaa, buu…”,ujar Fathin lagi pada bundanya tercinta sambil balas tersenyum.

Hari demi hari yang dilalui, berjalan semakin cepat dan perkembangan kondisi kesehatan ibundanya menuju ke arah yang lebih baik. Kini.., titian menuju bulan suci Ramadhan, semakin luas terbentangkan dan melegakan. Bagi Fathin bulan Ramadhan kali ini terasa berbeda dari sebelumnya, apa yang telah dilaluinya merupakan latihan "training from Allah" ujian kesabaran diri dan keluarga besarnya sebelum menjalankan ibadah di bulan suci. 

"Alhamdulillah…, Bulan Ramadhan telah di pelupuk mata. Umat muslim sedunia merindukannya, hamba memohon padaMU, Ya Rabb.., untuk bisa sampai dan  sambut bulan suci yang penuh berkah dan ampunan dengan hati yang bersih, ikhlas dan sabar sebagai modal untuk menjalankan ibadah. Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan. Allahu Akbar…".


***Selesai***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar