Ass. Wr. Wb..,
Life of Story, cerita kehidupan kali ini bercerita tentang pengalaman hidup yang pernah terjadi pada seorang ibu yang kecewa atas sikap anaknya yang susah payah dibesarkannya.
Sang ibu adalah seorang ibu yang tegas dan disiplin dalam membesarkan anak lelakinya. Begitu banyak pengorbanan dan usaha yang dilakukannya untuk anak semata wayangnya ini, demi mencapai keberhasilan. Cara mendidik seperti 'demokrasi terpimpin' adalah pola yang diterapkan sang ibu, yaitu Keputusan hanyalah ada pada sang ibu, bukan berdasarkan kesepakatan bersama, dan itu terus berlangsung sampai sang anak dewasa. Anak tidak memiliki hak atau pendapat dalam untuk memutuskan apa pun, sekalipun untuk dirinya sendiri.
Singkat cerita, sang anak yang terlihat amat penurut ini pun sukses dan berhasil mencapai cita-citanya, serta mampu memenuhi segala keperluannya sendiri. Sampai pada suatu hari, setelah menikah dan memiliki rumah tinggal barunya sendiri, sang ibu pun bertandang ke rumah sang anak. Sang ibu berkeliling melihat keadaan rumah baru anaknya ini, dan dengan seperti biasanya, sang ibu langsung berkomentar, ”Nak, lukisan ini sebaiknya tidak diletakkan di sini, pindahkan saja ke sebelah sana”. Seraya menunjuk lukisan di dinding itu untuk segera dipindahkan.
Namun tanpa di duga oleh sang Ibu, ternyata sang anak menjawab dengan jawaban yang cukup mengagetkannya,”Tidak bu, saya lebih senang lukisan itu ada disitu, dan bukan disana. Ini adalah rumah saya, sayalah yang berhak untuk mengatur apa pun di rumah saya sendiri !” Alangkah terperanjatnya sang Ibu mendengar ucapan sang anak, karena selama ini anaknya tidak pernah membantah apa pun kepadanya. Karena begitu kagetnya, sang ibu pun langsung terduduk lemas, dan tak mampu berkata apa pun lagi. Begitu kecewanya hati sang ibu saat itu, akhirnya tidak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Dan sang anak pun tidak menghalangi keinginan sang ibu.
Dengan perasaan galau dan penuh rasa tidak mengerti, sang ibu terus saja memikirkan bagaimana anaknya bisa bersikap seperti itu kepadanya. Akhirnya pada kesempatan di perkumpulan pengajiannya, sang ibu ini pun mencurahkan isi hatinya, berharap untuk mendapatkan jawaban atas kegundahannya itu. Lalu ada satu pertanyaan kepada sang ibu, ”Bagaimanakah cara ibu membesarkan anak ibu itu ?” Dan sang ibu pun menceritakan keseluruhan, bagaimana dia membesarkan sang anak hingga dewasa. Barulah semuanya terkuak sehingga menjadi lebih jelas.
Dan diberikan pandangan, pemahaman kepada sang ibu, yang membuat dirinya mengerti dan menyadari akan kesalahan yang dibuatnya. Bahwa sebaiknya hubungan antara orang tua dan anak, haruslah didasarkan oleh rasa cinta kasih yang tulus ikhlas, bukan tanpa paksaan dan siksaan (baik fisik maupun mental). Komunikasi orang tua dan anak terjalin selaras, terbuka dan mau saling menyesuaikan serta menyenangkan hati kedua belah pihak. Tanpa itu semua pasti tidak akan ada kesepakatan. Jadi adakah yang kurang tepat dari perilaku sang ibu selama ini ? atau sang anak kah yang durhaka ?
Dari cerita nyata diatas tadi, tentu tidak ada yang ingin mengalami hal serupa seperti yang dialami Sang Ibu tadi. Dan bisa disimpulkan bahwa dengan cara yang kurang sesuai dalam mendidik sang anak selama ia dibesarkan, ada rasa terpaksa,rasa kesal yang ternyata menimbulkan rasa dendam sang anak pada sikap ibunya, dan terus menerus dipendamnya. Sang anak merasa bahwa selama ini keberadaannya kurang dihargai dan tidak pernah diberinya kesempatan untuk bisa memutuskan apapun untuk dirinya sendiri, sampai ia telah dewasa sekalipun.
Maka pada kesempatan ia telah memiliki segalanya dan mampu mandiri, ia melampiaskannya dengan perlakuan yang dirasanya benar kepada sang ibu, seperti yang ia pernah rasakan dahulu. Tanpa perkataan yang santun dan bicara secara baik-baik dahulu. Ya.., inilah akibat dari cara mendidik secara ’paksaan’. Jika orang tua membesarkan anak-anaknya dengan ’paksaan’ bukan dengan ikhlas penuh kasih sayang, kelak nanti orang tua juga yang akan memetik hasilnya. Saat dewasa dan mandiri, anak dapat berbalik dan memaksa orang tua untuk menerima apa pun perlakuannya, sekalipun itu sangat menyakitkan. Benarlah ada pepatah mengatakan ”Siapa yang menanam, dialah yang memetik hasilnya.”
Rasullullah SAW pernah bersabda : “Sebaik-baik yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan” sedangkan keyakinan tidak hanya dapat ditanamkan melalui mata dan telinga saja, tetapi harus ‘dibenamkan’ ke dalam bawah sadar oleh akal dan kalbu.
Sejalan pula dengan pepatah barat mengatakan :
’I hear I forget, I see I know, I do I understand’ , ’kita mendengar kita lupa, kita melihat kita tahu, kita melakukan (praktek langsung) dengan akal dan kalbu kita mengerti’,
dengan hanya mendengar terkadang kita lupa, kalau kita melihat kita hanya mengetahui, tapi kita bisa lebih mengerti jika melakukan langsung secara keseluruhan baik dengan telinga, mata serta akal dan kalbu. Begitu pun pada anak-anak kita, mereka cenderung lebih paham jika mereka bertindak langsung (telinga, mata, akal dan kalbu) sehingga pesan yang ingin kita sampaikan dapat langsung mereka mengerti dengan baik dan benar.
Semoga bermanfaat.., BarrakAllahu Fiikum..
Wass. Wr. Wb.