Rabu, 13 Juli 2011

PadaMU Ku Mengadu

Bismillahirrahmanirrahiim..,

Ku basahi bibir ini dengan memujiMU..
Ku tundukkan jasmani dan ruh ku hanya padaMU..
Menyatu berpadu syahdu dalam tetes airmata ku..
Tiada daya upaya yang dapat terwujud tanpaMU..



Ku syukuri segala nikmat dan karuniaMU.., *Alhamdulillah..*
Ku tahu.., ku sadar..,Manusia tiada yang sempurna...
Manusia hanyalah makhluk yang bergelimang khilaf dan dosa...
Manusia hanyalah makhluk yang terbiasa berkeluh kesah..

Yaa Rabb.., Ku mohon.., ampuni lah.. maafkan aku & sesamaku....*Astaghfirullah..*

Terbayang semua perbuatan & kesalahanku...
Pada sesama & orang-orang terdekat yang tulus mengasihiku..
Orang-tuaku, saudaraku, keluargaku, juga teman-temanku...
Yang setia mendampingi, merawat, memperhatikan dan mencintai ku..

Ku yakin, tak satu pun luput dari pandangan & hitunganMU..
Memang cukup, hanyalah Engkau yang pantas menilai & membalas..

Jangan Kau jauhkan aku dari-MU..,
Jangan Kau angkuhkan aku, kufur atas nikmat & karuniaMU..
Jangan Kau goyahkan aku dalam iman Islam ku..
Jangan Kau tutup mata, telinga dan hati ku..


Ku tak ingin berteman rasa sesal di sisa hidupku...* Na'udzubillahi min dzaliik..*
Hanya Engkau..Yang Maha Sempurna, Maha Segalanya.., Yaa Rabb..
Berilah aku kelapangan dan keikhlasan hati menerima segala karunia dan takdirMU..
Bukakan mata, telinga, dan hatiku.. cukup hanya padaMU.. Yaa Rabb..


Meraih hidayahMU, dan masuk dalam golongan yang mengharap ridhoMU...
Amiiiin... Yaa Rabbal'alamiin...

Anak Yang Durhaka atau Orang-tua Yang Kurang Mengerti ?

Ass. Wr. Wb.., 

Life of Story, cerita kehidupan kali ini bercerita tentang pengalaman hidup yang pernah terjadi pada seorang ibu yang kecewa atas sikap anaknya yang susah payah dibesarkannya.
Sang ibu adalah seorang ibu yang tegas dan disiplin dalam membesarkan anak lelakinya. Begitu banyak pengorbanan dan usaha yang dilakukannya untuk anak semata wayangnya ini, demi mencapai keberhasilan. Cara mendidik seperti 'demokrasi terpimpin' adalah pola yang diterapkan sang ibu, yaitu Keputusan hanyalah ada pada sang ibu, bukan berdasarkan kesepakatan bersama, dan itu terus berlangsung sampai sang anak dewasa. Anak tidak memiliki hak atau pendapat dalam untuk memutuskan apa pun, sekalipun untuk dirinya sendiri.


Singkat cerita, sang anak yang terlihat amat penurut ini pun sukses dan berhasil mencapai cita-citanya, serta mampu memenuhi segala keperluannya sendiri. Sampai pada suatu hari, setelah menikah dan memiliki rumah tinggal barunya sendiri, sang ibu pun bertandang ke rumah sang anak. Sang ibu berkeliling melihat keadaan rumah baru anaknya ini, dan dengan seperti biasanya, sang ibu langsung berkomentar, ”Nak, lukisan ini sebaiknya tidak diletakkan di sini, pindahkan saja ke sebelah sana”. Seraya menunjuk lukisan di dinding itu untuk segera dipindahkan.


Namun tanpa di duga oleh sang Ibu, ternyata sang anak menjawab dengan jawaban yang cukup mengagetkannya,”Tidak bu, saya lebih senang lukisan itu ada disitu, dan bukan disana. Ini adalah rumah saya, sayalah yang berhak untuk mengatur apa pun di rumah saya sendiri !” Alangkah terperanjatnya sang Ibu mendengar ucapan sang anak, karena selama ini anaknya tidak pernah membantah apa pun kepadanya. Karena begitu kagetnya, sang ibu pun langsung terduduk lemas, dan tak mampu berkata apa pun lagi. Begitu kecewanya hati sang ibu saat itu, akhirnya tidak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Dan sang anak pun tidak menghalangi keinginan sang ibu.


Dengan perasaan galau dan penuh rasa tidak mengerti, sang ibu terus saja memikirkan bagaimana anaknya bisa bersikap seperti itu kepadanya. Akhirnya pada kesempatan di perkumpulan pengajiannya, sang ibu ini pun mencurahkan isi hatinya, berharap untuk mendapatkan jawaban atas kegundahannya itu. Lalu ada satu pertanyaan kepada sang ibu, ”Bagaimanakah cara ibu membesarkan anak ibu itu ?” Dan sang ibu pun menceritakan keseluruhan, bagaimana dia membesarkan sang anak hingga dewasa. Barulah semuanya terkuak sehingga menjadi lebih jelas.


Dan diberikan pandangan, pemahaman kepada sang ibu, yang membuat dirinya mengerti dan menyadari akan  kesalahan yang dibuatnya. Bahwa sebaiknya hubungan antara orang tua dan anak, haruslah didasarkan oleh rasa cinta kasih yang tulus ikhlas, bukan tanpa paksaan dan siksaan (baik fisik maupun mental). Komunikasi orang tua dan anak  terjalin selaras, terbuka dan mau saling menyesuaikan serta menyenangkan hati kedua belah pihak. Tanpa itu semua pasti tidak akan ada kesepakatan. Jadi adakah yang kurang tepat dari perilaku sang ibu selama ini ? atau sang anak kah yang durhaka ?


Dari cerita nyata diatas tadi, tentu tidak ada yang ingin mengalami hal serupa seperti yang dialami Sang Ibu tadi. Dan bisa disimpulkan bahwa dengan cara yang kurang sesuai dalam mendidik sang anak selama ia dibesarkan, ada rasa terpaksa,rasa kesal yang ternyata menimbulkan rasa dendam sang anak pada sikap  ibunya, dan terus menerus dipendamnya. Sang anak merasa bahwa selama  ini keberadaannya kurang dihargai dan tidak pernah diberinya kesempatan untuk bisa memutuskan apapun untuk dirinya sendiri, sampai ia telah dewasa sekalipun.

Maka pada kesempatan ia telah memiliki segalanya dan mampu mandiri, ia melampiaskannya dengan perlakuan yang dirasanya benar kepada sang ibu, seperti yang ia pernah rasakan dahulu. Tanpa perkataan yang santun dan bicara secara baik-baik dahulu. Ya.., inilah akibat dari cara mendidik secara ’paksaan’. Jika orang tua membesarkan anak-anaknya dengan ’paksaan’ bukan dengan ikhlas penuh kasih sayang, kelak nanti orang tua juga yang akan memetik hasilnya. Saat dewasa dan mandiri, anak dapat berbalik dan memaksa orang tua untuk menerima apa pun perlakuannya, sekalipun itu sangat menyakitkan. Benarlah ada pepatah mengatakan ”Siapa yang menanam, dialah yang memetik hasilnya.”

Rasullullah SAW pernah bersabda : “Sebaik-baik yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan” sedangkan keyakinan tidak hanya dapat ditanamkan melalui mata dan telinga saja, tetapi harus ‘dibenamkan’ ke dalam bawah sadar oleh akal dan kalbu.

Sejalan pula dengan pepatah barat mengatakan :
’I hear I forget, I see I know, I do I understand’ , ’kita mendengar kita lupa, kita melihat kita tahu, kita melakukan (praktek langsung) dengan akal dan kalbu kita mengerti’,
dengan hanya mendengar terkadang kita lupa, kalau kita melihat kita hanya mengetahui, tapi kita bisa lebih mengerti jika melakukan langsung secara keseluruhan baik dengan telinga, mata serta akal dan kalbu.
Begitu pun pada anak-anak kita, mereka cenderung lebih paham jika mereka bertindak langsung (telinga, mata, akal dan kalbu) sehingga pesan yang ingin kita sampaikan dapat langsung mereka mengerti dengan baik dan benar.

Semoga bermanfaat.., BarrakAllahu Fiikum..

Wass. Wr. Wb.

Jumat, 01 Juli 2011

Tips Simple Mengisi Waktu Liburan



Ass. Wr.Wb..,

Alhamdulillah...,

Liibuuuur..t'lah tibaa..., Senangnya...,
yang paling disyukuri di setiap liburan adalah terlepasnya diri dari rutinitas dan tanggung jawab pada aktivitas dalam masa tertentu. 
Baik aktivitas sekolah atau pun pekerjaan. 
Dan biasanya yang paling dinikmati saat libur adalah saat bangun pagi (setelah shalat Subuh bagi yang muslim) bisa dilanjut tidur lagi..hehehe... alias tidur lebih panjang dan bangun lebih santai. Imbas juga untuk mamanya yang ada di rumah pun bisa mengurus pekerjaan rumah lebih santai, tidak terbatas oleh waktu seperti hari biasa, dan yang jelas si mama bisa ikut beristirahat juga.. he he. he... 

Naah..., biasanya hari-hari libur akan lebih terasa sensasi menyenangkannya / melegakan  kalau hasil dari aktivitas sekolah/pekerjaan mencapai hasil yang memuaskan. Jadi kegiatan yang dijalani dengan lelah dan susah payah di hari-hari sebelum liburan terasa tidak sia-sia. Ibarat pepatah 'Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian..bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian'. Tapi walau hasil yang tercapai saat ini masih kurang memuaskan, jangan lah berkecil hati. Karena kesempatan masih selalu ada, dan jangan putus asa. Seperti Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk 'selalu optimis, bahwa hari esok harus lebih baik dari hari sebelumnya', jika berusaha lebih maksimal lagi. Yang pasti liburan harus tetap dinikmati untuk mengistirahatkan diri, sekaligus 'refreshing maker', penyegaran diri agar lebih semangat lagi menjalani aktivitas mendatang.

Masa liburan tidak harus di isi dengan bepergian ke suatu tempat dengan biaya mahal, tentukan pilihan liburan yang sesuai dengan keinginan keluarga, kemampuan dan keadaan. Liburan bukan hanya sebagai 'refreshing maker' penyegaran diri, tapi bisa juga sebagai aktivitas menambah wawasan.serta ajang 'recharge love' yaitu untuk lebih mengakrabkan, menambah rasa cinta kasih dalam keluarga.

Misalnya : jika sedang tidak bepergian ke luar rumah, beberes rumah bersama-sama seluruh anggota keluarga juga bisa dilakukan. Tujuannya mendidik agar anak-anak tidak terbiasa 'ngeboss' melulu.., terbiasa minta tolong mbak/PRT atau mama-papanya. Tapi anak-anak juga bisa diajarkan untuk membantu kegiatan mamanya misalnya membantu mengerjakan pekerjaan rumah disesuaikan kemampuan mereka, supaya mereka bisa mengerti bagaimana mengurus pekerjaan rumah tangga, dan mandiri di kemudian hari nanti; Atau liburan bersama seluruh keluarga ke tempat yang bernuansa alam, dengan ber-tadabur alam, menikmati sekaligus bersyukur pada Allah SWT atas keindahan alam yang diciptakanNYA, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak-anak dan menambah wawasan pengetahuan alamnya. Sederhana, murah dan bermanfaat; Bisa juga untuk mengisi liburan dengan alternatif liburan yang mendidik, seperti : anak-anak mengikuti pesantren kilat di masa liburan sekolah.

Dan masih banyak lagi cara lain yang menarik dalam 'mengemas' liburan agar masa liburan yang dijalani jadi menyenangkan dan memuaskan semua anggota keluarga, juga menambah wawasan, intinya pilih liburan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan keluarga kita. InsyAllah...kegiatan liburan apa pun yang kita jalani bermanfaat, akan selalu teringat dan membekas di hati semua anggota keluarga serta menjadi pengalaman yang menyenangkan, sekaligus pemacu semangat agar bisa mencapai hasil yang lebih maksimal di aktivitas mendatang. Selamat berlibur....


Semoga bermanfaat..

Wass.Wr.Wb.